KUNINGAN (Patrolisidaknews)
Pernyataan tokoh pemuda Kuningan, Alan Suwgiri, yang menyebut tukang tambal ban sebagai “CEO yang menyamar” menuai sorotan. Ia menilai profesi yang kerap dipandang sebelah mata itu justru memiliki potensi ekonomi besar, terutama pada momen tertentu seperti arus mudik Lebaran.
Menurut Alan, dalam kondisi normal seorang tukang tambal ban bisa mengantongi sekitar Rp500 ribu per hari. Bahkan saat musim mudik, pendapatan tersebut dapat melonjak hingga Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per hari.
“Sering kali kita menyepelekan profesi seperti tukang tambal ban, padahal faktanya mereka bisa menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi, punya rumah layak, bahkan membeli beberapa bidang tanah,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Alan juga mencontohkan adanya pelaku usaha tambal ban yang mampu menguliahkan dua anaknya, memiliki hunian setara ASN, hingga mengumpulkan aset berupa beberapa bidang tanah.
Ia menilai, peluang ekonomi sebenarnya terbuka luas di sekitar masyarakat. Namun, menurutnya, faktor gengsi masih menjadi penghambat utama, khususnya di kalangan generasi muda.
“Di satu sisi peluang itu nyata, tapi banyak yang masih terjebak gengsi. Padahal kalau mau tekun, hasilnya bisa luar biasa,” tegasnya.
Kritik: Tidak Semua Hari “Ramai Lebaran”
Namun, pandangan tersebut tidak lepas dari kritik. Seorang warga yang akrab disapa Wa Ro'i menilai pernyataan Alan terlalu menyederhanakan realitas di lapangan.
Menurutnya, lonjakan pendapatan hingga jutaan rupiah memang bisa terjadi, tetapi bersifat musiman dan tidak bisa dijadikan gambaran penghasilan harian secara umum.
“Opininya bagus, memuliakan profesi tambal ban. Tapi apakah bisa setiap hari dapat jutaan? Kuningan tidak selalu ramai seperti saat Lebaran,” ujarnya.
Ia juga menilai, narasi tersebut berpotensi menjadi sekadar pencitraan jika tidak disertai pemahaman utuh terhadap kondisi ekonomi riil para pelaku usaha kecil.
“Kalau dianalisa, ini seperti numpang pencitraan saja,” tambahnya.
Sentilan Isu Lama: “Kuningan Caang” hingga Bantuan Domba
Tak hanya mengkritisi substansi, Wa Ro’i juga menyentil konsistensi isu yang pernah diangkat Alan sebelumnya. Ia mempertanyakan kelanjutan sejumlah persoalan publik yang dinilai belum tuntas.
“Apakabar Kuningan Caang? Apakabar isu bantuan domba yang hilang tanpa jejak?” sindirnya.
Refleksi: Antara Inspirasi dan Realitas
Perdebatan ini mencerminkan dua sisi yang sama-sama relevan. Di satu sisi, sektor informal seperti tambal ban memang terbukti mampu menjadi sumber penghidupan yang layak, bahkan menjanjikan pada momen tertentu.
Namun di sisi lain, keberhasilan tersebut tidak bersifat merata dan sangat bergantung pada lokasi, waktu, serta konsistensi permintaan pasar.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa peluang ekonomi di masyarakat memang terbuka, tetapi tetap perlu dilihat secara realistis agar tidak menimbulkan ekspektasi yang berlebihan terutama bagi generasi muda yang sedang mencari arah.
| red |

0 Komentar