Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Pembangunan Tugu Angklung , Murni Dari CSR Perumda Bank Kuningan

 

   


 Kuningan ( Patroli Sidak News )          Peresmian tugu angklung di pertigaan Jl Lingkar Cipari - Cisantana merupakan penetrasi Pemkab Kuningan dalam mensiasati kemajuan wisata kawasan Palutungan dan kawasan wisata Kuningan Barat. 

     Bupati Kuningan Dian Rahmat Yanuar berharap Tugu Angklung yang dibangun akan menjadi simbol budaya dan tradisi yang mengakar , dan menjadi pertemuan dimensi tradisional dan modern, yang membangun lorong waktu dalam membangun makna budaya yang tidak hilang dalam perjalan antar generasi.

     Dalam sambutannya , Dian berharap Angklung menjadi nilai toleransi dan harmonisasi dalam hidup dan kehidupan , " " Ditugu ini akan ditulis prasasti , ' Disini sebuah sejarah lahir dari rahim Kuningan , untuk menyapa dunia, ' . 

      Dijelaskan Dian , Pembangunan Tugu Angklung tidak membebani APBD , tetapi ini dari CSR Perumda Bank Kuningan , menurut informasi , nilai CSR yang digelontorkan sekitar 200 jutaan .

     Sedangkan alasan Dian me-lokasikan tugu Angklung di pertigaan Cipari - Cisantana ,karena lokasi ini merupakan gerbang untuk menyapa para wisatawan yang akan masuk ke kawasan alam wisata Palutungan." jelas Dian

      Angklung yang merupakam alat musik yang dimainkan dengan cara digoyangkan atau digetarkan , dibuat dari bambu hitam ( awi wulung ) meski ada juga dari bambu putih ( awi temen ).

     Seorang Budayawan yang kurang terkenal di Kuningan karena fokus dagang martabak di pasar Krucuk , Andri Junaedi , memaparkan alat musik angklung dulu selalu dipagelarkan sebagai bentuk pemujaan dan apresiasi pada 'Mbak Sri Pohaci ( dulu Nyai Sri ) yang melambangkan Dewi Padi atau Dewi Kesuburan , pada zaman kerajaan Sunda di abad 12 an .

     Seperti yang dikatakan Dian dalam sambutannya , hal serupa juga dikatakan Andri Junaedi , menurutnya , ada dua tokoh yang berperan dalam perkembangan angklung di Jawa Barat , yaitu Daeng Soetigna yang dinobatkan sebagai Bapak Angklung Diatonis dan Udjo Ngalagena yang berkreasi dengan teknik permainan dengan laras pelog dan salendro , yang membuat angklung bisa diharmonisasikan dengan alat musik modern dan orkestra.

     Dan pada tahun 2010 , lanjut Andri , Indonesia mengusulkan angklung masuk daftar Warisan Budaya Takbenda kemanusiaan dan akhirnya dikabulkan Unesco dan ditetapkan Angklung sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia pada tanggal 16 November 2010.

      " Disini, ada ikatan sejarah antara Angklung dengan Kota Kuningan. Ini karena Daeng Soetigna adalah tokoh budaya asal Kuningan yang pada tahun 1938 menselaraskan Angklung dengan nada Diatonis ( modern ) dari nada pentatonik tradisional." begitu diungkap Andri 

    Nama lain yang berketerkaitan ( hese macananya ? ) adalah Muhamad Sotari yang dikenal dengan panggilan Pak Kucit , yang membantu Daeng dalam proses peselarasan nada Angklung ke Diatonis. " Setahu saya , Pak Kucit pun orang Kuningan, orang Citangtu , " begitu Juned bertutur tanpa diminta.

     Dalam acara Peresmian Tugu Angklung Rabu ( 18/3 )hadir Wabup Tuti Andriani , para ka - SOPD dan tamu undangan dan unsur instansi vertikal. 

( didi khadeel )

Posting Komentar

0 Komentar