Hot Posts

6/recent/ticker-posts

REDUPNYA IKON IKAN DEWA CIGUGUR SAAT LEBARAN: KRITIK KERAS ATAS PENGELOLAAN DAN EKSPLOITASI AIR

 


Patrolisidaknews

KUNINGAN — Momentum Idul Fitri yang biasanya menjadi puncak kunjungan wisata justru menghadirkan pemandangan kontras di kawasan Kolam Ikan Dewa Cigugur, Kabupaten Kuningan. Alih-alih ramai oleh wisatawan, kawasan yang dahulu menjadi kebanggaan masyarakat ini kini tampak sepi, redup, dan kehilangan pesonanya.

Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, melontarkan kritik keras terhadap kondisi tersebut. Ia menilai telah terjadi kegagalan serius dalam pengelolaan kawasan, terutama terkait pemanfaatan sumber air dari mata air Cigugur yang dinilai lebih berorientasi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dibanding keberlanjutan lingkungan dan komunitas.

“Yang terjadi hari ini, komunitas hanya dimanfaatkan untuk pemenuhan PAD. Sementara lingkungan dikorbankan. Air dari mata air Cigugur diambil, tetapi kolam dan habitat Ikan Dewa justru rusak dan terbengkalai,” tegas Iwa.

Kolam Rusak, Habitat Hilang

Menurutnya, kondisi fisik kolam saat ini jauh dari kata layak. Air yang dahulu jernih hingga terlihat dasar bebatuan alami, kini berubah keruh kecoklatan. Bahkan, populasi Ikan Dewa yang menjadi ikon kawasan tersebut dilaporkan mengalami kematian massal hingga nyaris punah.

Ia juga menyoroti pembangunan pintu air pembuangan yang dinilai lambat dan tidak tepat sasaran.

“Pembangunan pintu air itu seperti membangun komplek perumahan. Lambat, tidak solutif, dan justru mengganggu distribusi air ke hilir. Ini bukan hanya terlambat, tapi juga salah arah,” ujarnya.

Tak hanya itu, desain rehabilitasi kolam dinilai mengabaikan aspek ekologis. Struktur alami yang sebelumnya menjadi bagian penting habitat ikan kini berubah menjadi bangunan permanen tanpa mempertimbangkan fungsi lingkungan.

“Ruang-ruang alami kolam yang dulu menopang kehidupan ikan, sekarang malah ditutup tembok permanen. Ini jelas menghilangkan fungsi ekologisnya,” tambahnya.

Lebaran Tanpa Wisatawan

Situasi ini berdampak langsung pada sektor pariwisata lokal. Jika sebelumnya kawasan Cigugur selalu dipadati pengunjung saat libur Lebaran, kini justru ditinggalkan.

“Biasanya dari H+1 sampai H+3 Lebaran, pengunjung membludak. Orang datang memberi makan ikan, menikmati suasana. Sekarang? Sepi total. Bahkan warga sendiri enggan datang,” ungkap Iwa.

Kondisi tersebut dinilai sebagai kegagalan pengelolaan yang berimbas pada hilangnya potensi ekonomi masyarakat sekitar.

Eksploitasi Tanpa Tanggung Jawab

Iwa menilai, akar persoalan terletak pada pendekatan pengelolaan yang terlalu eksploitatif terhadap sumber daya air tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan.

“Kolam ini dieksploitasi, baik air maupun nilai wisatanya. Tapi saat rusak, tidak ada keseriusan untuk memulihkan. Ini yang memprihatinkan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kematian Ikan Dewa bukan sekadar hilangnya ikon wisata, melainkan sinyal kerusakan lingkungan yang lebih luas.

“Kematian ikan langka itu adalah alarm. Bahwa lingkungan kita sudah terganggu, bahkan mungkin tercemar. Ini akibat keserakahan dan kelalaian manusia,” tegasnya.

Desakan Evaluasi Total

Iwa mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan untuk segera melakukan evaluasi total terhadap pengelolaan kawasan Cigugur, termasuk menghentikan praktik eksploitasi air yang tidak terkendali.

Ia menegaskan bahwa keberadaan mata air Cigugur seharusnya menjadi sumber kehidupan bersama—bukan sekadar komoditas ekonomi.

“Air itu kebutuhan dasar, bukan komoditas semata. Apalagi di kawasan habitat Ikan Dewa yang butuh air jernih dan stabil. Kalau ini terus diabaikan, kita kehilangan semuanya,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Iwa mengajak semua pihak untuk menjadikan momen Lebaran sebagai refleksi atas hubungan manusia dengan alam.

“Kita harus belajar dari kelalaian ini. Alam dan manusia saling membutuhkan. Kalau kita merusak, kita juga yang akan merasakan dampaknya,” pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar