Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Kolam Ikan Dewa Cigugur: Antara Warisan Spiritual, Kearifan Lokal, dan Ancaman Kerusakan Lingkungan

 


Patrolisidaknews

KUNINGAN — Kolam Ikan Dewa di Cigugur bukan sekadar destinasi wisata atau sumber air alami. Bagi masyarakat setempat, kolam ini merupakan titik awal kehidupan, ruang spiritual, sekaligus simbol identitas budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

Tokoh pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, mengungkapkan bahwa keberadaan kolam tersebut tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang terbentuknya komunitas masyarakat Cigugur.

“Awalnya, kolam ini hanyalah mata air yang muncul dari celah-celah bukit berbatu, tertutup pepohonan tua yang rindang. Airnya mengalir mengikuti kontur tanah ke arah barat, menjadi sumber kehidupan awal masyarakat hingga terbentuknya permukiman,” ujarnya.

Sumber Kehidupan dan Ikatan Sosial

Air dari mata air tersebut menjadi fondasi lahirnya komunitas Cigugur, yang dikenal memiliki ikatan kekeluargaan kuat. Dari situlah terbentuk desa dengan karakter budaya yang khas dibanding wilayah lain di Kabupaten Kuningan.

Namun lebih dari itu, kolam ini juga menyimpan dimensi spiritual yang kuat.

Jejak Spiritual Ki Gedeng Padara

Dalam kisah babad lokal, kolam ini diyakini berkaitan erat dengan sosok pertapa sakti, Ki Gedeng Padara. Ia dikenal sebagai wiku yang memiliki kesadaran spiritual tinggi dan hidup dalam kesucian.

“Konon, kolam itu adalah panisan atau peninggalan beliau. Setelah ngahyang menghilang secara spiritual tanpa meninggalkan jasad masyarakat percaya beliau bersemayam sebagai leluhur penjaga,” jelas Iwa.

Kepercayaan ini melahirkan tradisi “nyambat karuhun” memohon bantuan leluhur saat menghadapi persoalan hidup. Sosok tersebut dikenal sebagai Eyang Cigugur atau Eyang Padara.

Kolam Sakral dan Mitos Ikan Dewa

Kolam ini juga dikenal dengan ikan dewa (lauk kancra girang) yang dikeramatkan. Masyarakat percaya ikan tersebut bukan sekadar makhluk hidup biasa.

Dalam cerita turun-temurun, ikan itu disebut berasal dari sisa makanan Ki Gedeng Padara yang berubah menjadi ikan tanpa daging hanya kerangka, namun tetap hidup. Siapa pun yang melihatnya diyakini akan memperoleh keberuntungan.

Selain itu, air kolam dipercaya memiliki nilai spiritual digunakan untuk tirakat, pengobatan, hingga ritual tertentu.

Krisis: Kematian Ikan dan Kerusakan Ekosistem

Belakangan, kondisi kolam memunculkan keprihatinan. Kematian ikan yang terjadi secara beruntun menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Ini bukan hal biasa. Ikan-ikan ini dikenal kuat dan jarang sakit jika lingkungannya terjaga,” tegas Iwa.

Ia menilai, gangguan terhadap ekosistem menjadi penyebab utama. Di antaranya:

Tertutupnya akses ikan ke mata air akibat pembangunan

Perubahan struktur dasar kolam

Terganggunya sumur-sumur alami sebagai ruang perlindungan ikan

Berkurangnya vegetasi penyangga alami

Kritik terhadap Pengelolaan

Iwa juga menyoroti pendekatan pengelolaan yang dinilai terlalu berorientasi fisik dan ekonomi, tanpa memperhatikan aspek budaya dan spiritual.

“Kalau hanya memungut tiket dan menguras air tanpa memahami nilai yang hidup di sana, maka yang hilang bukan hanya ikan, tapi juga jati diri masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kolam tersebut bukan sekadar objek wisata, melainkan pusat kosmologi masyarakat Cigugur ruang yang menghubungkan alam jasmani dan rohani.

Seruan untuk Pemerintah

Iwa mendesak pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, agar lebih bijak dalam melakukan pembangunan dan revitalisasi kawasan tersebut.

“Peran Dinas Pariwisata sangat penting. Pembangunan jangan hanya memperbaiki fisik, tapi juga menjaga harmoni antara alam, budaya, dan kepercayaan lokal,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa mengabaikan kearifan lokal sama dengan bentuk penindasan budaya yang dapat mengikis identitas masyarakat.

Menjaga Warisan, Bukan Sekadar Infrastruktur

Kolam Ikan Dewa Cigugur adalah simbol asal-usul masyarakat, ruang spiritual, dan warisan budaya yang hidup. Menjaganya bukan hanya soal konservasi lingkungan, tetapi juga tentang merawat ingatan kolektif dan nilai-nilai leluhur.

“Kalau ini rusak, yang hilang bukan hanya kolam. Tapi sejarah, kepercayaan, dan jati diri orang Cigugur,” pungkas Iwa.

Posting Komentar

0 Komentar