Patrolisidaknews
KUNINGAN – Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan semakin sulitnya mendapatkan pekerjaan, sebagian warga Kabupaten Kuningan terpaksa mencari cara untuk tetap bertahan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satunya dengan menekuni pekerjaan sebagai pemulung atau pengumpul barang bekas yang memiliki nilai ekonomis.
Profesi yang kerap dipandang sebelah mata tersebut kini menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang membutuhkan penghasilan, baik sebagai pekerjaan utama maupun pekerjaan sampingan.
Ada sejumlah alasan yang mendorong warga menekuni pekerjaan tersebut. Sebagian menjadikannya sebagai mata pencaharian utama karena tidak memiliki pekerjaan lain. Sementara sebagian lainnya menjadikan aktivitas memulung sebagai pekerjaan tambahan lantaran penghasilan dari pekerjaan utama belum mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Hal itu diungkapkan Joni (nama samaran), warga salah satu desa di Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Ia mengaku baru sekitar dua bulan terakhir menjalani pekerjaan sebagai pemulung setelah mengikuti jejak temannya, Maman (nama samaran), yang telah lebih dahulu menekuni pekerjaan tersebut selama kurang lebih lima tahun.
Menurut Joni, pekerjaan mengumpulkan barang bekas awalnya hanya dilihat sebagai alternatif untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami bahwa barang-barang yang dianggap sampah oleh sebagian orang ternyata masih memiliki nilai jual.
Sementara itu, Maman mengungkapkan bahwa barang yang paling sering dikumpulkan saat menyusuri jalan maupun kawasan fasilitas umum adalah botol dan gelas plastik bekas air mineral, kaleng, kardus hingga kertas koran.
"Barang yang diambil kebanyakan botol atau gelas plastik bekas air mineral, kaleng bekas, kardus dan kertas koran. Tapi sekarang kertas koran sudah jarang ditemukan. Saya dengar banyak penerbit koran atau media yang gulung tikar setelah perkembangan media online," ungkap Maman.
Ia menambahkan, salah satu alasan pekerjaan tersebut tetap diminati adalah karena tidak membutuhkan modal uang yang besar. Peralatan yang digunakan pun relatif sederhana. Menurutnya, yang paling dibutuhkan justru kemauan, ketekunan, dan kesiapan mental untuk menjalani pekerjaan di lapangan.
"Menjadi pemulung barang bekas di jalan atau fasilitas umum tidak membutuhkan modal uang. Yang penting punya kemauan dan mental untuk bekerja," tuturnya.
Meski tidak tercatat secara resmi dalam data ketenagakerjaan, keberadaan pemulung atau pengumpul barang bekas cukup mudah ditemui di sejumlah wilayah Kabupaten Kuningan. Mereka terlihat menyusuri jalan, permukiman, hingga tempat-tempat umum untuk mencari barang yang masih bisa dijual kembali.
Fenomena ini menjadi gambaran bahwa persoalan ekonomi dan kebutuhan hidup masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat. Di balik aktivitas mengumpulkan barang bekas, ada perjuangan warga untuk memperoleh penghasilan dengan cara yang halal dan tidak bergantung kepada orang lain.
Bagi sebagian orang, barang bekas mungkin hanya dianggap sampah. Namun, bagi mereka yang menggantungkan hidup dari pekerjaan tersebut, setiap botol plastik, kaleng, dan kardus yang terkumpul memiliki arti penting untuk menyambung kehidupan keluarga.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan masyarakat masih membutuhkan perhatian bersama, agar setiap warga memiliki kesempatan memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak.

0 Komentar