Sambutan Bapak Presiden Joko Widodo pada Pembukaan Konvensi Kampus XXIX dan Temu Tahunan XXV Forum Rektor Indonesia (FRI), 15 Januari 2024

0

-Patrolisidaknews.com


Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum, warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat pagi,

Salam sejahtera bagi kita semuanya,

Om swastiastu,

Namo Buddhaya,

Salam Kebajikan.


Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju, hadir bersama saya Bapak Menteri Sekretaris Negara Prof. Pratikno, mantan rektor Universitas Gadjah Mada. Seangkatan dengan saya. Juga Bapak Menteri Mendikbud, juga hadir bersama saya Bapak Menteri Investasi;

Yang saya hormati Gubernur Jawa Timur beserta Forkopimda;

Yang saya hormati Ketua Dewan Pertimbangan dan Ketua Dewan Kehormatan FRI;

Yang saya hormati Ketua Umum Dewan Pengurus Harian Forum Rektor Indonesia beserta jajaran pengurus Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., beserta seluruh jajaran;



Yang saya hormati para rektor perguruan tinggi negeri maupun swasta;

Hadirin Bapak-Ibu sekalian undangan yang berbahagia.


Kemarin sore saya baru saja tiba dari lawatan tiga negara, dari Filipina, kemudian ke Vietnam, dan ke Brunei, dan kemarin sore tiba di Jakarta. Tadi subuh dari Bogor saya ke Surabaya hanya khusus untuk Forum Rektor Indonesia, karena lembaga perguruan tinggi itu betapa sangat pentingnya dan punya peran yang sangat strategis bagi negara ini dan juga rektor yang punya peranan besar.


Saya juga baru saja bulan yang lalu datang ke Amerika, kemudian pergi ke dua perguruan tinggi. Tidak usah saya sebutkan nama universitasnya, di Washington DC dan di San Fransisco. Saya masuk  dan kemudian saya lihat. Apa yang ada di pikiran saya, betul-betul saya kaget, karena yang saya lihat lebih dari separuh mahasiswanya itu dari Tiongkok, dari RRT, dari China. Saya kemudian berpikir, oh inilah yang menyebabkan yang namanya China/Tiongkok itu melompat maju di 20 tahun terakhir ini dan melampaui negara-negara yang sudah maju.


Yang saya lihat kedua, siapa ini mahasiswa yang paling banyak? India. Saya cari lagi mahasiswa dari Indonesia, ada ndak, ada ndak, ada ndak. Ternyata ada, lima, sangat kecil sekali. Kemudian, saya dibawa ke fakultas jurusan robotik dan AI. Yang saya lihat sama, lebih dari separuh mahasiswa yang ada di situ itu dari Tiongkok, dari RRT. Artinya, mereka belajar AI, mereka belajar robotik, robotik untuk laut dalam, robotik untuk agri, robotik untuk medik, untuk manufacturing, semuanya di situ mereka belajar.


Inilah yang harus kita siapkan karena lima tahun, 10 tahun yang akan datang kita akan mendapatkan bonus demografi. SDM unggul akan menjadi kunci dan itu harus betul-betul kita persiapkan secara riil dan konkret. Dan kita tahu, sumber daya alam kita memang melimpah, tapi itu tidak cukup untuk kita menjadi negara maju. Justru kita sering lupa karena, kayak batu bara kita cangkul saja langsung dijual bisa laku keras. Nikel yang sebelumnya juga sama, dicangkul saja, ekspor ke semua negara terima tanpa nilai tambah. Bauksit cangkul saja, ekspor juga semua negara mau mengambilnya, tapi kita tidak memiliki nilai tambah.



Sekali lagi, sumber daya alam yang melimpah tidaklah cukup untuk menjadi negara maju. Yang paling penting, yang pertama, kita butuh SDM-SDM yang berkualitas. Yang kedua, kita butuh iptek dan inovasi yang juga berkualitas. Dan, keduanya menjadi tugas penting lembaga pendidikan tinggi kita. Tugas para dosen, tugas para rektor, dan tugas kita semuanya.


Saya kemarin di Vietnam mendapatkan informasi ada satu perusahaan di sana R&D (research and development)-nya memiliki 2.400 peneliti. Ini swasta, begitu mereka sangat menghargainya yang namanya riset. Termasuk Tiongkok juga sama, ada yang satu perusahaan yang saya tahu memiliki 24 ribu periset. Vietnam, ini income per kapitanya kira-kira 4.300 US Dollar, kita sekarang sudah kira-kira 5.100 [US Dollar]. Padahal mulainya Vietnam di tahun 1975 itu baru selesai perang, artinya 30 tahun duluan kita, tapi mereka ngebut, kencang, dan hati-hati, income per kapitanya hampir  melampaui kita. Dan, kalau kita hanya monoton dan santa-santai saja, bisa sebentar lagi kelanggar sama yang namanya Vietnam. Ini yang kita tidak mau.



Lembaga pendidikan tinggi memiliki peran yang sangat strategis untuk mencetak SDM-SDM unggul, SDM-SDM yang berkualitas. Ini yang sering juga saya sampaikan yang bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan, tapi juga terus belajar. SDM yang kuat fisik, mental, dan moralnya. SDM yang inovatif menghasilkan karya-karya yang berkualitas. Di sisi lain, perguruan tinggi juga punya tugas, yaitu menjadi lembaga riset. Kuncinya di sini, yang tadi saya lupa menyampaikan. Di Vietnam itu, antara universitas dan industri itu sambung. Desain besarnya pemerintah, kemudian universitas, industri itu bisa sambung semuanya, itu yang luar biasa.


Saya ulangi, perguruan tinggi juga punya tugas mulia, yaitu menjadi lembaga riset karena memiliki dosen yang sangat banyak, baik S1, S2, S3, dan juga tenaga peneliti, serta puluhan ribu mahasiswa untuk pengembangan iptek kita dan berinovasi untuk memecahkan masalah-masalah bangsa.


Oleh karena itu, saya akan memerintahkan kepada BRIN untuk menjadi orkestrator penelitian bersama Bappenas, untuk merancang kebutuhan riset kita, untuk menjawab tantangan yang akan kita hadapi itu apa, dan untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada di depan kita itu apa. Dan, yang paling penting, kuncinya ada di perguruan tinggi, bukan di BRIN, tapi di perguruan tinggi risetnya. Itu yang harus mulai kita geser. Orkestratornya boleh dari BRIN, tetapi perguruan tinggi peran untuk research and development-nya harus betul-betul diperkuat.



Artinya lagi, Pak Nadiem, anggarannya diperbesar. Enggak apa-apa, dimulai tahun ini, nanti kan sudah ganti presiden. Tapi dimulai dulu yang gede, jadi presiden yang akan datang pasti mau tidak mau melanjutkan. Entah itu 01, entah itu 02, itu entah 03, tapi dimulai dulu. Enggak mungkin kalau sudah di Pak Nadiem sudah menambahkan [anggaran] banyak, kemudian presiden yang akan datang motong, enggak akan berani.


Kita tahu kesempatan kita, peluang kita ke depan untuk mengembangkan ekonomi hijau, ekonomi biru. Oleh sebab itu, kita butuh teknologi smart farming, smart fisheries, juga butuh teknologi bioenergi, EV battery, green industry. Kita juga butuh teknologi fast computing, fast analysis, dan masih banyak lagi, yang ini memang semuanya harus segera kita siapkan. Karena dalam peradaban sebuah negara, kita itu hanya, biasanya hanya diberi sekali peluang untuk menjadi negara maju. Peluang yaitu saat kita diberi bonus demografi.


Begitu kita tidak bisa memanfaatkan peluang itu, seperti yang sering saya sampaikan seperti negara-negara latin, Amerika Latin, tahun ’50, tahun ’60, tahun ‘70 diberikan peluang dan tidak bisa memanfaatkan, saat itu tahun ’50an-‘60an mereka sudah menjadi negara berkembang, tapi sampai saat ini mereka tetap menjadi negara berkembang dan bahkan ada yang malah turun menjadi negara miskin karena tidak memanfaatkan opportunity, tidak memanfaatkan kesempatan, tidak memanfaatkan peluang yang diberikan dan terjebak pada middle income trap.


Untuk itu, perguruan tinggi dalam negeri harus terus didorong, harus dioptimalkan. Peringkat perguruan tinggi terbaik Indonesia harus terus diperbaiki berdasarkan QS World yang ada setiap tahun. Saya lihat yang ranking-nya 200 ke atas masih kecil sekali, enggak usah saya sebut karena kecil sekali dan nilainya masih di atas 100, yang masuk ya top 100 atau top 50 belum ada. Inilah pekerjaan besar Bapak-Ibu Rektor yang saya hormati. Meskipun tadi juga sudah disampaikan secara blak-blakan oleh Profesor Doktor Mohammad Nasih keluhan-keluhan yang ada, baik –dan saya senang blak-blakan seperti itu; ada pemeriksaan, ada anggaran yang masih sangat kurang, dan yang lain-lainnya– tapi sudah saya catat, Prof. Nanti langsung akan kami bicarakan.


Dan, rasio penduduk berpendidikan S2 dan S3 terhadap populasi produktif itu juga masih sangat rendah sekali kita ini. Saya kaget juga, kemarin dapat angka ini saya kaget. Indonesia itu di angka 0,45 persen, 0,45 persen. Negara tetangga kita Vietnam, Malaysia sudah di angka 2,43 persen. Negara maju 9,8 persen. Jauh sekali.


Saya  minggu ini akan rapatkan ini dan mengambil kebijakan/policy untuk mengejar angka yang masih 0,45 persen ini. Enggak tahu anggarannya akan didapat dari mana, tapi akan kita carikan agar S2-S3 terhadap populasi usia produktif itu betul-betul bisa naik secara drastis. Kejauhan sekali 0,45 [persen] sama 2,43 [persen]. Angkanya memang kelihatannya, tapi kalau dikalikan ini sudah berapa kali, lima kali lebih rendah kita dengan negara-negara yang tadi saya sampaikan. Bukan negara maju, belum negara dibandingin dengan negara maju.


Sekali lagi, saya sangat paham semua upaya tersebut membutuhkan anggaran, membutuhkan biaya, pembiayaan di tengah tekanan berat fiskal kita, tapi apa pun yang namanya sumber daya manusia menjadi sangat penting dalam 5-10 tahun ke depan dan itu akan menjadi kunci. Pembiayan pendidikan dan riset tetap terus harus diupayakan seoptimal mungkin, bukan hanya dari APBN dan APBD tapi juga pemanfaatan dana abadi yang kita miliki, termasuk mungkin menghubungkan dengan industri lewat Matching Fund, ini juga penting.


Kalau kita lihat APBN untuk pendidikan dari 2009 sampai 2024, berarti 15 tahun, mencapai Rp6.400 triliun. Dana abadi LPDP pada saat dibuka Rp1 triliun, sekarang sudah mencapai, di 2023 kemarin, sudah mencapai Rp139 triliun. Dan, jumlah penerima beasiswa juga sudah meningkat  tujuh kali lipat dari awal LPDP dibuka. Tapi ini masih jauh, masih sangat kurang. Saya kira perlu ditingkatkan, paling tidak lima kali lipat dari yang sudah ada sekarang. Memang butuh, sekali lagi, butuh anggaran dan pembiayaan yang besar tetapi tetap ini menjadi kewajiban kita untuk mencarikan jalan agar rasio kita tadi bisa terangkat naik.


Terakhir, saya mengajak seluruh perguruan tinggi untuk menguatkan kolaborasi dan sinergi, serta melahirkan lebih banyak solusi-solusi untuk mewujudkan kemajuan negara kita Indonesia. Dan, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini secara resmi saya buka Konvensi XXIX dan Temu Tahunan XXV Forum Rektor Indonesia.


Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

( Reno )

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)