RSUD Cideres Diduga Lalai Dalam Penanganan Pasien

0


MAJALENGKA, PatroliSidakNews -
Pelayanan Unit Gawat Darurat RSUD Cideres diduga lalai dalam melayani dan menangani pasien gawat darurat, hal ini terjadi kepada salah satu pasien dengan inisial B binti M pada hari Selasa (06/02 2024).


Kronologi kejadian berawal saat pasien dengan inisial B diantar ke UGD RSUD Cideres untuk mendapatkan penanganan Gawat Darurat, dimana kondisi pasien saat dibawa ke rumah sakit dalam keadaan lemah, kesulitan bicara dan Kadang gemetar.


Menurut keluarga pasien yang minta Indentitasnya tidak ditulis menjelaskan kepada tim Fast Respon Polri "Sekitar jam 9 pagi pasien masuk UGD RSUD Cideres Selasa (06/02/2024) dengan membawa Surat Rujukan dari Klinik Panyikiran Medika, karena hari Senin (05/02/2024) Pasien berobat di klinik tersebut, kata sumber.


Lebih lanjut Sumber menceritakan bahwa "Keluhan awal pasien adalah Cacar (karurawit) atau Herpes, dari klinik Panyikiran Medika (dr. Intan) memberikan obat Acyclovir 800 mg 4 X 2 Tab, Farsidol Forte 3 X 1 Tab, Dobrizol (Lanzoprazol)Cap 1 X 1 Cap, dan Grathazon (Dexamethason) Tab 2 X 1 Tab, Secara terapi obat yang diberikan sudah sesuai dengan Keluhan Pasien", papar sumber.


Pasien diberikan penangan dengan pemberian infus, sambil melihat perkembangan pasien kami dari pihak keluarga menunggu, dalam penanganan pasien di ambil darah untuk cek laboratorium, setelah itu CT Scan dan Rongsen, setelah diinfus pasien kelihatan mulai membaik, pasien udah mulai bisa bicara dan udah kelihatan segar sehingga akhirnya pasien minta pulang, meski awalnya pasien mau dirawat, tambah Sumber.


Yang jadi pertanyaan dan di anggap janggal dan dugaan kelalaian adalah :


1. Perkembangan pasien membaik itu harusnya dievaluasi atau di observasi sampai minimal beberapa jam ke depan atau 1 hari untuk pengambilan tindakan lebih lanjut.


2. Pasien diminta CT Scan dan Rongsen, padahal keluhan pasien itu Herpes sesuai dengan rujukan dari Klinik Panyingkiran Medika, hal ini diduga pihak RSUD mencari keuntungan mengingat kondisi pasien membaik setelah di infus, dan apa urgensinya tindakan CT Scan dan Rongsen sedangkan diagnosa penyakitnya Herpes.


3. Saat Pasien pulang di berikan obat darah tinggi (amlodipin) sedangkan Tekan Darah pasien cuma 90 (Rendah), hal ini diduga dokter UGD tidak membaca riwayat pasien sehingga asal memberikan obat, dan jika obat diberikan, pasien bisa tambah ngedrop.


Ketiga hal tersebut di sampaikan Sumber kepada tim media Fast Respon Polri sebelum menutupnya


Tim Media Fast Respon Polri mencoba menemui Direktur RSUD Cideres, Senin (12/02/2024) namun Direktur RSUD sedang tugas kelua kantor, Tim media Fast Respon Polri di temui oleh Kabag Kemitraan dan Hukum Pujiarto S.Kep., M.H., kepada tim media Fast Respon Polri Pujiarto menjelaskan terkait tiga poin yang dipertanyakan, namun jawaban yang di sampaikan belum menjawab Substansi yang di tanyakan hanya normatif saja, 


Pujiarto mengatakan "Kami akan cek pelayanan tersebut sudah sesuai SOP atau belum, kami harus ngecek dulu benar tidaknya kejadian tersebut, yang kami tahu bahwa pelayanan di kita memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat, kalau menurut kronologi penyakit Tindakan yang diambil kemungkinan atas dugaan karena ada nya tremor maka pasien dirawat, CT Scan dan Rongsen" katanya.


Ketua Generasi Wem Askin angkat bicara terkait kejadian ini kepada tim media Fast Respon Polri menyampaikan "Sebagai pelayanan publik RSUD harusnya mengedepankan pelayanan maksimal dan tentu lebih teliti mengingat kelalaian sedikit saja bisa merugikan pasien, melihat kronologi kejadian tersebut kami berharap pihak RSUD Cideres bisa memperbaiki dan meningkatkan pelayanan"


(Tim Fast Respon Polri)

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)